Angka Stunting di Indonesia Tinggi, Buibu Bisa Apa?

Angka stunting di Indonesia
Angka Stunting (?) di Indonesia © semestaibu.com

Sebagai rahim generasi, Buibu perlu paham soal isu nasional. Dan, ini dia polemik angka stunting di Indonesia vs dunia. Apa yang bisa Buibu lakukan?

***

Wahai, Buibu di segala penjuru mata angin …

Pernahkah Buibu merasa bumi gonjang-ganjing saat akan melihat timbangan?

Ketika angka-angka menjadi begitu berarti hingga dua digit di belakang koma. Ketika pergeseran sedikit saja, membuat seisi semesta laksana surga?

Tos dulu. Kita sama.

Tapi, bukan soal berat badan pasca lahiran ya. Soal itu, anggap saja Buibu sedang berevolusi menjadi kasur, agar lebih “empuk” dan nyaman bagi bayi.

Kini, kita bicara perkara yang lebih darurat bagi Buibu, dari kutub selatan sampai kutub utara, yaitu … berat badan anak!

Belum lagi, sekarang rame soal stunting dan Gerakan Nasional 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Niscaya, tidak hanya timbangan yang menjadi barang keramat bagi Buibu, tapi juga pengukur panjang dan tinggi badan. Xixixi~

Ya, kan? Ketika sudah jadi Buibu, berat dan tinggi badan anak tidak hanya persoalan sehat dan kuat, tapi juga pertaruhan atas martabat dan self-esteem Buibu. Apalagi, kalau pas apes ketemu Buibu lain yang sekonyong-konyong komentar, “Anaknya kok kecil banget, ya.”

Duh, itu tuh kalimat simpel yang ketika Buibu lagi rapuh, maka akan terdengar seperti: “Dikasih makan gak sih itu? ASInya pasti sedikit. Gak becus amat jadi ibu, bla bla bla …”

Hiks. Mendadak, merasa jadi Esmeralda gitu, kan.

Xixixi~ Baper dikit boleh, kok. Yang penting … Buibu tidak defensif, ya. Berdamai saja, lalu pikirkan dengan jernih.

Sebagai rahim generasi, Buibu tetap harus peduli soal isu nasional, bahkan dunia. Karena itu, Buibu juga perlu berpikir kritis mengenai angka stunting di Indonesia dan perkara 1000 HPK.

Baca juga: Tanya Jawab Seputar Stunting dan 1000 Hari Pertama Kehidupan

Permasalahan Stunting di Dunia vs Indonesia

Apa sih yang sebenarnya terjadi? Ada masalah apa? Hmm, begini …

Berdasarkan data Joint Child Malnutrition Estimates tahun 2019, kita dapat mengetahui bahwa:

  • Sekitar 21,9% atau sejumlah 149 juta balita di seluruh dunia, mengalami stunting pada tahun 2018 [1].
  • Dari jumlah tersebut, sekitar 55% balita yang tergolong stunting berasal dari Asia, dengan proporsi 17,6% dari Asia Tenggara atau sekitar 14,4 juta anak [1].

Apakah angka yang tinggi itu karena jumlah penduduk yang juga tinggi? Tidak juga.

  • Prevalensi stunting di Asia Tenggara pada tahun 2018 memang masih terbilang tinggi, yaitu 25%. Artinya, 1 dari 4 balita di Asia Tenggara mengalami stunting [1].
  • Dan, di Indonesia, prevalensi stunting pada balita pada tahun 2018, ternyata lebih tinggi lagi, yaitu 30,8%, yang artinya 1 dari 3 balita di Indonesia mengalami stunting [2].
  • Nah, di bulan Oktober 2019, Menteri Kesehatan, Nila F. Moeloek mengumumkan bahwa prevalensi stunting di Indonesia berhasil ditekan hingga menjadi 27,67% [3].
  • Namun, sayang sekali, kita tidak bisa terlalu optimis. Karena, di tahun 2016, prevalensi stunting juga pernah turun hingga 27,5%, tapi naik lagi di tahun 2017 menjadi 29,6% [4], dan di tahun 2018 menjadi 30,8% [2].

Jadi, kita nantikan saja hasil survei pada tahun-tahun berikutnya, ya. Xixixi~ Lagipula, penggunaan istilah “stunting” ini masih perlu kita kritisi, Buibu.

Polemik Istilah “stunting” dan “perawakan pendek”

Menurut WHO, “stunting” merujuk pada balita dengan tinggi badan yang lebih pendek dari seharusnya menurut usia, atau berada di bawah -2SD pada kurva TB/U WHO Child Growth Standard [1].

Klik di sini untuk mengunduh kurva TB/U WHO Child Growth Standard.

Kondisi stunting berdasarkan standar WHO, merupakan akibat dari masalah kesehatan dan/atau masalah nutrisi, pada masa kandungan hingga balita. Dan, dalam jangka panjang, tumbuh kembang fisik dan kognitif anak-yang-mengalami-stunting tidak akan optimal, sehingga berimplikasi pula pada keberhasilannya di sekolah, masyarakat, dan dunia kerja [1] [5].

Q: “Waduh! Anak saya pendek menurut standar WHO, tapi pintar dan sehat-sehat saja, kok.

Nah, barangkali cukup banyak Buibu Indonesia yang memikirkan hal serupa. Karena itu … Yuk, kita bahas!

Dalam jurnal penelitian berjudul Indonesian National Synthetic Growth Charts, Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A (K) FAAP menyampaikan adanya perbedaan antara “perawakan pendek” dengan “stunting” [6]. Lebih lanjut, dalam Panduan Praktik Klinis Ikatan Dokter Indonesia (PPK IDAI), bahkan juga terdapat penekanan yang senada.

Stunting termasuk bagian dari perawakan pendek, namun kondisi perawakan pendek belum tentu stunting. Karena, terdapat beragam penyebab dari perawakan pendek, mulai dari yang normal seperti familial short stature hingga yang patologis, seperti malnutrisi, hipotiroid, dan sebagainya [7].

Nah, sudah bingung atau belum, Buibu? Xixixi~

Intinya, kalau menggunakan standar WHO, 30,8% (prevalensi tahun 2018) balita di Indonesia, dianggap stunting dan mengalami malnutrisi. Padahal, belum tentu.

Karena, diketahui rata-rata tinggi badan orang Indonesia telah mengalami kenaikan sebesar 5 cm dalam 50 tahun terakhir. Namun, masih terdapat ketimpangan, antara rata-rata tinggi badan balita dan orang dewasa di Indonesia, dengan referensi standar WHO [6].

Sehingga, menurut jurnal penelitian tersebut, menggunakan kurva pertumbuhan WHO sebagai acuan diagnosis malnutrisi, menjadi kurang tepat pada balita di Indonesia [6] yang secara general memiliki postur lebih pendek. Dan, karena itu, untuk membuat diagnosis dan penanganan yang tepat sasaran, perlu ada kurva pertumbuhan nasional sebagai referensi yang lebih dapat diandalkan.

Nah, kurva pertumbuhan nasional ini sudah dibuat, lho. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A (K) FAAP telah mengunggah National Growth Reference Chart di Instagram pribadinya sejak Agustus 2018 lalu.

Namun, sayang sekali, kurva pertumbuhan nasional ini belum dapat kita jadikan acuan, karena secara resmi, Kementerian Kesehatan masih mengacu pada WHO Child Growth Standards.

Kenapa tidak menjadikan National Growth Reference Chart sebagai acuan nasional?

Tentu saja, alasan yang sebenarnya tidak bisa dijawab oleh Semesta Ibu, melainkan kementerian yang bersangkutan dan dokter-dokter yang kredibel.

Kami kan, hanya Buibu awam yang sedang belajar mencari info dengan benar dan terpercaya. Xixixi~

Tapi, untuk memahami perkara ini, ada yang perlu kita ingat, yaitu:

National Growth Reference Chart hanya menggambarkan pertumbuhan anak-anak di Indonesia, dan bukan standar pertumbuhan optimal.

Sementara itu, WHO Child Growth Standards merupakan kurva yang dibuat berdasarkan pertumbuhan optimal anak pada lingkungan yang mendukung tumbuh kembangnya.

Jadi, tentu kita tidak bisa menggunakan National Growth Reference Chart sebagai acuan tumbuh kembang optimal, bukan?

Justru, kita harus berupaya agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh semakin tinggi dari generasi ke generasi, berkelanjutan, hingga kurva pertumbuhan nasional kita dapat setara dengan kurva pertumbuhan WHO.

Yeaay!

Apakah mungkin orang-orang Indonesia tumbuh lebih tinggi?

Tentu saja! Dalam lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang, anak dapat tumbuh lebih tinggi dari orang tuanya.

Karena, selain mid parental height yang dipengaruhi oleh tinggi badan Pakbapak dan Buibu, ada pula bonus potensi tinggi genetik sekitar 8,5 cm [7].

Berapa tinggi badan maksimal yang dapat dicapai anak Buibu? Bagaimana prosesnya hingga orang-orang Indonesia dapat tumbuh lebih tinggi?

Buibu bisa baca di sini:

Berapa Perkiraan Tinggi Badan Anak Ketika Dewasa? Hitung, Yuk!

Optimalkan Tinggi Badan Anak dengan Nutrisi di 1000 HPK

Mengapa angka stunting di Indonesia tinggi?

Apakah salah Buibu? Salah teman-teman Buibu? Atau, salah Pakbapak?

Jika merujuk ke jurnal penelitian Indonesian National Synthetic Growth Charts yang kita bahas sebelumnya, angka stunting di Indonesia tinggi karena hanya mengacu pada tinggi badan balita, tanpa memerhatikan faktor-faktor lain yang menjadi penyebab anak berperawakan pendek.

Tapi, kalaupun analisis tersebut benar, kita juga tidak bisa menutup mata, bahwa kasus malnutrisi juga masih terjadi di Indonesia. Belum lagi, kehamilan di usia remaja, bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), kekurangan energi kronik (KEK) pada remaja putri, anemia pada Buibu hamil, daaan beragam masalah lainnya [4].

Untuk itu, Buibu juga bergerak, yuk. Bahu-membahu membuat perbaikan, dari diri sendiri, keluarga, tetangga, hingga ke bangsa.

Bagaimana cara Buibu berkontribusi dalam Gerakan 1000 HPK?

Coba, kita perhatikan sama-sama, celah-celah persoalan yang terlewatkan dari Gerakan Nasional 1000 HPK, bisakah kita mengisinya?

1. Faktor psikologis ibu

Penting banget bagi Buibu untuk selalu berpikir jernih. Namun, kesehatan mental Buibu kerap diuji ketika ada yang mulai membahas soal berat badan dan tinggi badan anaknya.

Familiar, kan, dengan Buibu defensif yang bilang kalau anaknya kurus karena aktif atau genetik? Respon semacam itu, hanya akan terlontar ketika Buibu merasa terancam dan terintimidasi oleh sikap tenaga kesehatan atau Buibu lain.

Toh, secara alami, setiap Buibu punya naluri untuk menyadari ketika ada yang salah, dan terus berupaya untuk memperbaiki kondisi, kok.

Karena itu, sebagai sesama Buibu, hati-hati dalam berucap dan bertindak, ya. Mari sama-sama belajar untuk empati, peduli, bijaksana, dan hindari sikap yang terkesan menghakimi.

2. Keterlibatan sosok ayah

Asupan gizi, tumbuh kembang anak, dan urusan rumah tangga, bukan hanya urusan Buibu. “Bikin”nya bareng, ngerawatnya juga bareng, dong. Xixixi~

Benar, harus ada pembagian tugas. Tapi, bukan berarti tidak bisa saling membantu tugas masing-masing, kan? Harus, malah.

Karena, meskipun Buibu dan Nakanak yang menjadi sasaran utama perbaikan gizi di 1000 HPK, sudah seharusnya Pakbapak juga paham dan turut aktif terlibat. Apalagi, peran ayah berpengaruh begitu besar terhadap tumbuh kembang fisik dan mental anak.

Jadi, Buibu … Sekalipun budaya patriarki masih menjadi tantangan, cobalah untuk memperbaiki komunikasi dalam keluarga. Saling mendengar, saling memahami, dan pelan-pelan, giring Pakbapak memasuki dunia pengasuhan yang seru ini. 

3. Kesadaran finansial keluarga

Duh, ini penting banget. Setidaknya, meski penghasilan Buibu dan Pakbapak belum begitu besar dan belum cukup untuk beli pesiar, minimal, harus banget mengatur pengeluaran. Mengendalikan, agar tidak dikendalikan.

Rumuskan, sesuai dengan arah dan prinsip masing-masing keluarga. Jangan sampai, merasa tidak ada budget untuk beli buah-buahan buat anak, tapi Pakbapak masih aja beli rokok.

Nah, lho. Karena itu, kesadaran finansial, kesamaan visi, dan kerja sama antara Pakbapak dan Buibu ini wajib banget untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak di 1000 HPK.

4. Pendekatan positif terhadap masyarakat

Yang kita ketahui, isu pencegahan stunting berangkat dari “permasalahan”. Dalam perspektif Appreciative Inquiry, cara ini hanya akan membuat kita fokus pada hal negatif dan merasa negatif pula.

Masyarakat dianggap sebagai “masalah”, bukan tim untuk maju bersama. Wajar, jika muncul ucapan defensif dari Buibu insecure di seantero Nusantara.

Tentu akan lebih baik, jika membuat Buibu dan Pakbapak peduli dan sadar untuk bareng-bareng berkontribusi menaikkan tinggi badan orang-orang Indonesia di masa depan. Minimal, anak lebih tinggi dari ibu dan ayahnya. Dan, bukan malah memberi label kurang nutrisi dan hambatan kognitif pada anak-anak berperawakan pendek, tanpa pendekatan klinis yang mumpuni.

Tapi, kalau sudah terlanjur ada stereotip begitu, kita dulu yang merekonstruksi pola pikirnya ya. Dari diri sendiri, keluarga, dan teman-teman Buibu yang berbahagia.

5. Budaya tolong-menolong

Kurangi kebiasaan untuk merutuki pemerintah, karena mereka sudah puas dirutuki oleh mahasiswa. Xixixi~

Sebagai Buibu yang bijaksana, kita bergerak saja. Untuk mendukung keberhasilan Gerakan 1000 HPK, kita kembangkan lagi budaya tolong-menolong antar tetangga.

Apakah Buibu di seberang rumah butuh bantuan untuk mendapatkan makanan bergizi? Bagaimana dengan di belakang rumah? Kalau di sekitar kompleks? ART kita? Bagaimana dengan Pakbapak penjual bandros yang biasa lewat depan rumah?

Kalau Buibu menyisihkan rezeki untuk berbagi, tentu akan lebih berarti dan jadi abadi, bukan?

6. Budaya literasi

Buibu dan remaja putri sudah pada pegang smartphone, kan? Sayang banget kalau cuma buat mom war di media sosial atau berantem di kolom komentar IG selebritas.

Bakal lebih elegan, kalau Buibu semangat belajar. Mencari dan berbagi informasi dari sumber-sumber yang valid, ilmiah, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Perangi hoax, dan ajak Buibu lain untuk sama-sama belajar memilah, siapa yang harus kalian percaya?

Apalagi soal kesehatan anak dan isu stunting ini. Pastikan Buibu mendapat sumber yang terpercaya.

Kalau Buibu perhatikan, itulah alasannya ada angka-angka [1], [2], [3], … dan seterusnya pada tulisan-tulisan di Semesta Ibu. Agar Buibu dapat merujuk langsung pada sumber yang tertera di akhir tulisan.

Jadi, Buibu bisa mengoreksi kalau kami ada salah interpretasi. Xixixi~

7. Pendekatan agama

Buibu Indonesia cenderung religius dan bakal tersentuh jika menggunakan pendekatan agama. Kalau gitu, Buibu guru ngaji, Buibu ustazah, dan Buibu pengajian juga perlu terlibat, nih.

Sudah seharusnya, agama tidak hanya perkara ritual, melainkan tindakan untuk memperbaiki sebuah peradaban.

Lagipula, bukankah mempersiapkan generasi yang lebih baik juga implementasi dasar dari menjadi khilafah di bumi?

Yuk, kontribusi!

***

Sumber:

1. UNICEF, WHO, The World Bank. Levels and trends in child malnutrition: key findings of the 2019 Edition of the Joint Child Malnutrition Estimates. Geneva: WHO; 2019 Licence: CC BY-NC-SA 3.0 IGO.

2. Kementerian Kesehatan RI. Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018. Jakarta

3. Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan RI – Menggembirakan, Angka Stunting Turun 3,1% dalam Setahun

4. Kementerian Kesehatan RI – Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan edisi tahun 2018, dengan Topik Stunting

5. WHO – Child growth indicators and their interpretation

6. Aman B Pulungan., et al. “Indonesian National Synthetic Growth Charts”. Acta Scientific Paediatrics 1.1 (2018): 20-34.

7. Panduan Praktik Klinis IDAI (2017): Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia

Tuliskan pendapat Anda di sini. :)