Tanya Jawab Seputar Stunting dan 1000 Hari Pertama Kehidupan

Apa itu stunting dan 1000 hari pertama kehidupan
Q&A stunting dan 1000 HPK ♡ semestaibu.com

Apa itu stunting? Dan, apa kaitannya dengan 1000 hari pertama kehidupan? Yuk, temukan jawabannya di sini!

***

Buibu, stunting dan 1000 Hari Pertama Kehidupan ini perkara urgen.

Berkaitan dengan masa depan anak Buibu yang lucu dan cerdas itu. Jadi, baca pelan-pelan, ya.

Apakah Buibu pernah mendapatkan informasi tentang 1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK)?

Jika ya, selamat! Berarti Buibu rajin ke posyandu atau memiliki tingkat literasi yang baik.

Tapi, apakah Buibu benar-benar memahami tentang Gerakan Nasional 1000 HPK? Atau, masih ada yang tidak dipahami dan akhirnya Buibu abaikan begitu saja karena anak sudah berusia 1865 hari?

Baique~

Karena ini persoalan darurat, bahkan untuk Buibu yang telah melalui 12785 hari kehidupan, coba kita jabarkan satu per satu, yuk.

Q&A: Apa Itu Stunting dan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)?

Ada beragam pemberitaan tentang 1000 HPK, gerakan nasional terkait, dan isu tentang stunting yang jadi kasak-kusuk di antara Buibu.

Nah, daripada puyeng dengan info yang parsial dan tumpang tindih, kita pahami dulu dasar-dasarnya, melalui tanya jawab seputar 1000 HPK berikut ini:

Apa sih 1000 HPK itu?

1000 HPK atau 1000 hari pertama kehidupan merupakan periode awal kehidupan manusia yang dimulai sejak dalam kandungan (270 hari), hingga anak berusia 2 tahun (730 hari) [1].

Ada apa dengan 1000 HPK?

1000 HPK disebut sebagai periode emas (golden periode), karena organ-organ vital yang terbentuk sejak konsepsi (pembuahan) hingga usia dua tahun, menjadi pondasi atas kesehatan, pertumbuhan fisik, dan perkembangan otak anak di sepanjang hidupnya [2].

Singkat kata, capaian pada 1000 HPK dapat menjadi cerminan kondisi tubuh dan kualitas hidup anak di masa depan.

Di sisi lain, 1000 HPK juga menjadi periode kritis (critical periode). Jika pemberian nutrisi kurang memadai, terjadi infeksi, stres, dan masalah lainnya, maka dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang, yang akan berpengaruh juga dalam jangka panjang [3].

Apalagi, tinggi badan anak perempuan telah mencapai 50% tinggi dewasa di usia 18 bulan, sementara anak laki-laki mencapai 50% tinggi dewasa di usia 24 bulan [4]. Dan, perkembangan otak mereka pun telah mencapai 80% otak dewasa di usia 2 tahun [5].

Perkembangan otak anak dalam 1000 HPK

Jadi, penting banget untuk mengoptimalkan kondisi kehamilan ibu dan tumbuh kembang anak dalam 1000 HPK ini.

Bagaimana cara mengoptimalkan tumbuh kembang anak dalam 1000 HPK?

Buibu perlu memenuhi kebutuhan dasar anak, agar mereka dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal dalam 1000 HPK [6], yaitu:

  • Asuh, meliputi pemenuhan kebutuhan fisik atau biologis, yang terdiri dari nutrisi, imunisasi, kebersihan diri dan lingkungan, pelayanan kesehatan, aktivitas fisik, dan istirahat.
  • Asih, mencakup kebutuhan kasih sayang dan emosi, yang menimbulkan rasa aman, nyaman, dan kebahagiaan.
  • Asah, berupa stimulasi kemampuam yang dapat berguna dalam proses belajar anak, mulai dari motorik, sensorik, verbal, kreativitas, kepemimpinan, moral-spiritual, etika, dan sebagainya.

Apa itu gerakan nasional 1000 HPK?

Sejak tahun 2011, ada inisiatif global yang bertajuk Scaling Up Nutrition (SUN) Movement, yang intinya komitmen untuk melakukan perbaikan gizi bagi masyarakat dunia, secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya [7]. 

Lantas, sebagai bagian dari SUN Movement, pemerintah Indonesia mengelaborasikan gerakan itu dalam bentuk Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 42 Tahun 2013, Tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi, dengan fokus pada nutrisi ibu dan anak dalam 1000 hari pertama kehidupan.

Kenapa harus fokus pada 1000 HPK?

Karena, oh karena … Indonesia menjadi bagian dari SUN Movement bukan hanya karena peduli gizi, tapi juga karena tingkat balita berperawakan pendek yang masih tinggi, dengan rata-rata prevalensi 36,4% dari tahun 2005—2017 [8].

Bahkan, ketika tren prevalensi stunting dunia sudah menurun, Indonesia masih segitu-gitu aja, lho [8]. Xixixi~

Apa itu stunting?

Stunting, adalah perawakan pendek, yang menjadi indikator masalah gizi berkepanjangan.

Perawakan pendek yang dimaksud, jika tinggi badan anak berdasarkan umur (TB/U) berada di bawah -2 SD pada tabel atau kurva WHO Child Growth Standard [1].

Klik di sini untuk mengunduh kurva dan tabel WHO Child Growth Standard

Bagaimana stunting bisa terjadi?

Stunting dapat terjadi karena status kesehatan ibu hamil yang kurang baik, ketidakcukupan nutrisi anak, dan/atau terjadi infeksi. Akibatnya, berat badan anak akan sulit naik, dan mengakibatkan tinggi badan anak menyesuaikan, dengan tidak naik pula [1].

Apakah stunting ada dampaknya?

Pertanyaan ini perlu diluruskan. Stunting bukan penyebab, melainkan dampak dari masalah nutrisi. Jadi, jika terjadi pada 1000 HPK yang menjadi periode emas dan periode kritis, tentu bakal ada dampaknya dalam jangka pendek dan jangka panjang [9].

  • Dalam jangka pendek, dapat menghambat perkembangan motorik dan kognitif, gagal tumbuh, ukuran fisik tubuh yang tidak optimal, dan gangguan metabolisme.
  • Dalam jangka panjang, berupa penurunan kapasitas intelektual, gangguan permanen pada struktur dan fungsi saraf dan sel-sel otak, kemampuan belajar dan produktivitas yang rendah, gangguan pertumbuhan, dan peningkatan risiko penyakit tidak menular, seperti hipertensi, diabetes melitus, stroke, dan sebagainya.

Apakah anak berperawakan pendek pasti stunting?

Nah, ini yang perlu kita cermati bersama. Kita perlu mencari informasi yang benar, agar Buibu di seantero Nusantara yang memiliki anak berperawakan pendek tidak keburu baper, tertekan, dan malah jadi defensif.

Tenang, saya tahu perasaan Buibu, kok. Xixixi~

Yuk, kita bahas!

Sebagian Buibu barang kali berpikiran, “Ya wajar saja anak Indonesia dianggap stunting. Perbandingannya sama orang luar begeri yang tinggi-tinggi, sih.”

Atau, ada juga yang bilang, “Anak saya pendek, tapi pintar dan sehat, tuh. Tidak ada masalah kognitif!”

Dan, yang paling sering, “Bapak Ibunya juga pendek, ya wajar anaknya pendek juga.”

Xixixi~ Santuy, Buibu.

Sebenarnya … dalam Panduan Praktis Klinis Ikatan Dokter Anak Indonesia (PPK IDAI), mengenai Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia, sudah cukup jelas dan bisa membuat kita tercerahkan.

Sejak halaman kata sambutan dari Ketua IDAI, dr. Aman Bhakti Pulungan menyampaikan, “…. Perawakan pendek dapat disebabkan oleh kondisi patologis dan non patologis, sehingga perlu penilaian bijaksana untuk membedakan perawakan pendek dengan stunting.”

Dan, dalam buku PPK IDAI tersebut, tertuang pendekatan klinis yang perlu dilakukan pada kasus perawakan pendek, sebelum menghasilkan diagnosis dan pengobatan.

Sehingga, kalau Buibu cermati, dari buku PPK IDAI kita bisa mengetahui bahwa stunting sudah pasti berperawakan pendek, tapi perawakan pendek belum tentu stunting.

Karena, sebenarnya ada beragam alasan yang menyebabkan anak berperawakan pendek [10], yaitu:

  • perawakan pendek familial (familial short stature)
  • constitutional delay of growth and puberty (CDGP)
  • malnutrisi
  • defisiensi hormon pertumbuhan
  • hipotiroid
  • hipokondroplasia
  • osteogenesis imperfecta
  • sindrom Turner
  • sindrom Prader Willi
  • mucopolysaccharidosis (MPS)
  • dan, masih banyak lagi kelainan lainnya.

Hayoo … Banyak, kan? Macam-macam, kan? Ruwet, kan?

Karena itu, untuk mengetahui penyebab perawakan pendek secara akurat, Buibu perlu memeriksakan anak ke dokter yang kredibel.

Soalnya, dari daftar tersebut, kondisi yang normal dan tidak memerlukan pengobatan dan rujukan cuma yang pertama dan kedua. Sementara penyebab lain, akan membutuhkan penanangan medis lebih lanjut [10].

Apakah anak berperawakan pendek harus memeriksakan diri ke dokter?

Sebaiknya, iya. Tapi, Buibu juga bisa memeriksa kondisi anak secara mandiri sebelum memutuskan untuk mengunjungi dokter.

Bagaimana cara membedakan anak stunting dan non stunting secara mandiri?

Ingat, pemeriksaan secara mandiri tidak bisa dijadikan acuan pasti terkait kondisi anak. Diagnosis hanya bisa dilakukan dengan pemeriksaan medis yang memadai dan dilakukan oleh dokter.

Namun, berikut ini langkah-langkah yang dapat Buibu lakukan untuk mendapatkan gambaran kasar terkait kondisi anak berperawakan pendek:

1. Melakukan pemantauan tinggi badan anak secara berkala, sesuai rekomendasi IDAI, yaitu:

Sumber: PPK IDAI mengenai Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia

2. Catat dan plot pertumbuhan anak, pada kurva TB/U WHO Child Growth Standard, berikut ini:

(Sampel) WHO Child Growth Standard TB/U untuk anak laki-laki 0—5 tahun
(Sampel) WHO Child Growth Standard TB/U untuk anak perempuan 0—5 tahun

Klik di sini untuk mengunduh kurva WHO Child Growth Standard

3. Cermati posisi tinggi badan anak, pada kurva WHO Child Growth Standard, apakah tinggi badan anak berada di bawah atau di atas -2 SD?

4. Cermati kecepatan pertumbuhan anak, apakah telah sesuai dengan kecepatan pertumbuhan normal sesuai fasenya, berikut ini:

Sumber: PPK IDAI mengenai Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia

5. Hitung perkiraan tinggi akhir anak, berdasarkan mid-parental height dan potensi tinggi genetik, dengan rumus berikut ini:

Sumber: PPK IDAI mengenai Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia

6. Bandingkan tinggi anak dengan perkiraaan tinggi akhir. Jika anak Buibu perempuan, apakah tinggi anak di usia 18 bulan telah sesuai dengan 50% perkiraan tinggi akhir? Dan, jika anak Buibu laki-laki, apakah tinggi anak di usia 24 bulan telah sesuai dengan 50% perkiraan tinggi akhir?

7. Lakukan introspeksi terhadap asupan nutrisi harian anak, apakah pemberian gizi anak telah memadai?

8. Amati tubuh anak dengan saksama. Apakah Buibu merasa terdapat kejanggalan pada bentuk dan proporsi tubuh anak, atau ada keluhan lain?

Baca juga: Berapa Perkiraan Tinggi Badan Anak Ketika Dewasa? Hitung, Yuk!

Setelah melakukan 8 langkah di atas, Buibu akan mendapat sedikit gambaran kasar tentang kondisi anak. Dan, apabila Buibu merasa tidak yakin pada kondisi kesehatan Si Kecil, pastikan Buibu segera berkonsultasi dengan dokter anak untuk mendapat pemeriksaan dan diagnosis yang lebih tepat, ya.

***

Nah, dari tanya jawab di atas, apakah Buibu sudah lebih paham soal stunting dan gerakan nasional 1000 Hari Pertama Kehidupan?

Kalau sudah, kita move on, yuk.

Sekarang, mari kita perdalam lagi, bagaimana pemenuhan nutrisi pada 1000 HPK?

Dan, mengapa tren prevalensi stunting di Indonesia tidak kunjung menurun? Apakah salah Buibu, salah teman-teman Buibu, atau salah Pakbapak? Xixixi~

Yuk, simak informasi lanjutan tentang 1000 HPK di sini:

Optimalkan Tinggi Badan Anak dengan Nutrisi di 1000 Hari Pertama Kehidupan

Angka Stunting di Indonesia Tinggi, Buibu Salah Apa?

***

Sumber:

  1. Hanindita, Meta. 2018. Mommyclopedia: Tanya Jawab Tentang Nutrisi di 1000 Hari Pertama Kehidupan Anak. Jakarta: Gramedia.
  2. UNICEF – The First 1,000 Days of Life: The Brain’s Window of Opportunity
  3. Situs IDAI – Mencegah Anak Berperawakan Pendek
  4. Pedoman Ikatan Dokter Anak Indonesia (2015): Praktik Pemberian Makan Berbasis Bukti pada Bayi dan Batita di Indonesia untuk Mencegah Malnutrisi, hal. 5
  5. Situs IDAI – Pentingnya Pemantauan Tumbuh Kembang 1000 Hari Pertama Kehidupan Anak
  6. Situs Dirjen Kesmas, Kemkes RI – Kebutuhan Dasar Anak untuk Tumbuh Kembang yang Optimal
  7. Kementerian PPN/Bappenas – SUN Movement: Gerakan Nasional 1000 Hari Kehidupan Pertama
  8. Kemkes RI – Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan edisi tahun 2018, dengan Topik Stunting
  9. Kementerian PPN/Bappenas – Pedoman Pelaksanaan Intervensi Penurunan Stunting Terintegrasi di Kabupaten/Kota, Edisi November 2018, hal.4
  10. Panduan Praktik Klinis IDAI (2017): Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia

Tuliskan pendapat Anda di sini. :)