25 Film Pendek Indonesia yang Seru dan Menarik, Selain Tilik!

film pendek indonesia terbaik - semesta ibu

Selain Tilik, mari kita telusuri film-film pendek Indonesia yang tidak kalah unik, seru, dan menarik!


Salam, Buibu dan Pakbapak.

Film pendek besutan Racavana Films yang berjudul Tilik, rupanya punya dampak yang cukup masif. Penonton setia Atta Halilintar, Tim2one, Milyhya, David Gadgetin, sampai Panji Petualang, mendadak noleh bareng-bareng, dan mulai nontonin film-film pendek dari Indonesia dan mancanegara.

Tapi, selain Tilik, apalagi coba film pendek Indonesia yang unik, seru, dan menarik?

Wow, wow … ternyata banyak!

Pas banget nih buat Buibu dan Pakbapak yang tidak sempat duduk anteng, untuk nonton film berjam-jam. Terlebih, umumnya, film-film pendek punya makna yang dalam dan mengusik nalar. Jadi, bakalan jadi alternatif tontonan yang ideal, deh.

Ya … daripada streaming di situs ilegal, hayoh. Xixixi~

Yuk, ah. Kita telusuri dan apresiasi satu per satu film-film pendek terbaik Indonesia versi Semesta Ibu. Kalau ada yang mau nambahin, silakan sampaikan di kolom komentar yaa.

Yuk, nonton film pendek Indonesia terbaik yang unik dan menarik!

Catatan: ulasan singkat film-film pendek Indonesia berikut ini, hanya berasal dari manusia biasa yang awam dengan dunia perfilman. Jadi, hanya pendapat personal dan tentunya tidak dapat mewakili perspektif publik. Jika menurut pembaca, ada film-film pendek terbaik lain dengan pertimbangan yang lebih teknis dan ilmiah, silakan menoreh komentar. Kami akan sangat senang membacanya.

Yuk, capcus! Berikut ini 25 film pendek Indonesia terbaik versi Semesta Ibu yang seru, unik, dan menarik:

1. KTP

Sinopsis: Kehadiran petugas kelurahan yang ingin mengambil data Mbah Karsono, jadi masalah ketika hendak mengisi kolom agama. Pasalnya, Mbah Karsono merupakan penganut kejawen kaffah yang tidak mau berbohong dengan memilih 6 agama yang dapat termaktub oleh KTP. Nah, lho, dadi piye?

Ulasan: Pengemasan film yang jenaka, membuat isu “kolom agama di KTP” jadi terasa ringan. Terlebih, film ini juga nampak bijaksana, dengan tampilnya wajah toleransi dan gotong royong antar masyarakat desa.

Dengan pencahayaan alami, audio yang jernih, akting natural, dan editan menawan, ASAFILM berhasil menghadirkan film pendek yang lucu dan segar, tapi juga punya makna dan pesan yang mendalam.

Klik untuk menonton >> KTP

2. Lemantun

Sinopsis: Seorang ibu berusia lanjut yang tinggal di desa, membagikan warisan berupa lemari kepada lima orang anaknya yang telah dewasa. Beliau memberi syarat, lemari tersebut harus segera mereka bawa pulang, dan jika tidak, akan dikenakan denda. Lantas, bagaimana dengan satu orang anak yang belum punya rumah sendiri, dan masih tinggal bersama ibunya? Mau di bawa ke mana lemarinya?

Ulasan: Menggunakan lemari sebagai alegori, Lemantun menjadi film yang unik dan penuh kiasan. Alur cerita dan skenario yang apik, juga berhasil mengaduk-aduk perasaan penonton dari senang, tertegun, hingga berlinangan air mata.

Film ini, juga mengajak kita berpikir kembali soal persaudaraan, kasih sayang dalam keluarga, bakti kepada orang tua, dan hal-hal bias tentang kehidupan.

Klik untuk menonton >> Lemantun

3. Anak Lanang

Sinopsis: Empat orang bocah SD ngobrol di atas becak, dalam perjalanan pulang dari sekolah menuju rumah. Tapi, dua di antara mereka, nampak tidak akur dan bertengkar dengan sengit. Ada apa sih dengan mereka?

Ulasan: Lucu dan menghibur. Teknik pengambilan gambar one shoot jadi keunggulan yang paling kentara dari film Anak Lanang. Dengan akhir cerita yang cukup mencengangkan, film ini membuat kita terpana dan jadi sangat berkesan.

Terlebih, ada “petunjuk-petunjuk” yang terselip di sepanjang jalan. Apik!

Klik untuk menonton >> Anak Lanang

4. Sebelah

Sinopsis: Di suatu rumah susun, seorang pria muda kedatangan tetangga baru, seorang gadis manis yang tinggal bersama pasangannya. Tapi, ada sesuatu yang janggal pada gadis itu. Apa yang sebenarnya terjadi?

Ulasan: Seorang Reza Rahadian duduk di kursi sutradara dan menggandeng Tika Bravani sebagai aktor. Sudah, tidak perlu ragu, langsung nonton saja. Endingnya juga cukup memuaskan bagi para pecandu plot twist, kok.

Klik untuk menonton >> Sebelah

5. Carnivale

Sinopsis: Pemilihan ketua OSIS di SMA Garuda diwarnai kisruh yang menggemaskan. Calon dari geng populer, geng religius, dan geng underdog bersaing merebut hati para siswa dengan berbagai cara. Perseteruan pun makin memanas dengan terkuaknya isu mengenai sisi gelap dari masing-masing calon.

Ulasan: Meski menampilkan para remaja, mockumentary ini ngangkat cerita yang begitu runyam dan sama sekali tidak unyu-unyu. Tanpa perlu kepekaan tinggi, penonton akan memahami bahwa film ini merupakan komedi satire yang merepresentasikan suasana Indonesia di musim pilkada.

Namun, jika Buibu dan Pakbapak hendak menyimpulkan, hati-hati, ya. Namanya juga film, bukan reportase atau berita. Jadi, ambil hikmahnya saja, hahaha.

Klik untuk menonton >> Carnivale

6. Unbaedah

Sinopsis: Perempuan setengah baya bernama Baedah, punya kebiasaan “ndobel”. Dia sering kali ngambil takjil dan nasi kotak lebih banyak, dan akibatnya, ngurangin jatah untuk orang lain. Hmm, atas sikap buruknya itu, apakah nasib Baedah akan baik-baik saja?

Ulasan: Penggemar Bu Tedjo wajib nonton film pendek Unbaedah, untuk menyaksikan kembali totalitas akting Siti Fauziah. Sebagai bagian dari hajatan KPK, Bakarasa Films berhasil mewujudkan film yang membawa pesan anti-korupsi, dengan nuansa komedik, membumi, dan tetap classy.

Klik untuk menonton >> Unbaedah

7. Elegi Melodi

Sinopsis: Mendekati akhir hayatnya, Melodi begitu bersemangat mewujudkan impian yang lama terpendam: menjadi penyanyi dan membuat video klip. Atas bantuan anak laki-lakinya, video klip Melodi pun rampung, dan lantas disaksikan oleh orang-orang dalam upacara pemakamannya.

Ulasan: Aksi Dayu Wijanto tak pernah mengecewakan. Sebagaimana aktingnya dalam film Selamat Pagi, Malam, penampilan Dayu di film pendek Elegi Melodi pun begitu memukau.

Di sisi lain, lebih dari makna yang tersurat dan tersirat, Jason Iskandar dkk juga mampu menampilkan nuansa perpisahan dan kepergian yang indah, tanpa penyesalan. Unik dan inspiratif!

Klik untuk menonton >>Elegi Melodi

8. Something Old, New, Borrowed, and Blue

Sinopsis: Sekelumit tradisi pernikahan adat Jawa, dan nasihat ibu kepada anak perempuannya soal kehidupan pernikahan.

Ulasan: Dengan durasi yang cuma 3 menit, Something Old, New, Borrowed, and Blue justru bikin penonton merasa lebih nyesek. Hendak menunjukkan posisi perempuan dalam budaya patriarki, film super pendek ini bikin penontonnya nyeletuk,”Cuma gitu, doang?”

Dan, yes, sebenarnya posisi perempuan dalam budaya patriarki emang dianggap “cuma gitu doang”. Jadi, mau bagemana lagi, Buibu Pakbapak. Seperti yang ditampilkan dalam adegan dan dialognya yang sangat padat, perempuan ada pada posisi yang lebih rendah, harus tetap tersenyum di segala kondisi, berprasangka baik pada suami, dan tidak berhak mengambil keputusan.

Tapi, ingaaaat. Kita lagi ngomongin budaya ya, bukan agama. Cheers.

Klik untuk menonton >> Something Old, New, Borrowed, and Blue

9. Loz Jogjakartoz

Sinopsis: Menjadi rebutan, seekor burung mahal terus berpindah tangan, dan menjadi “piala” dalam pertarungan yang melibatkan preman, aparat, pejabat, hingga ormas. Siapa yang akan memenangkan burung mahal ini? Dan, ke mana kisah mereka akan berujung?

Ulasan: Sejak adegan pertama, sinematografi film pendek Loz Jogjakartoz sudah nampak begitu berkelas. Memanjakan mata, dengan visual yang cantik dan mahal.

Tapi, tidak sekadar teknis yang jadi keunggulan. Alur cerita dan isu yang diangkat juga cetar membahana. Sidharta Tata berani banget nyenggol sisi kelam Jogja, dengan “hirarki kekuasaan” yang bermain laiknya hukum rimba. Joz gandoz Loz Jogjakartoz!

Klik untuk menonton >> Loz Jogjakartoz

10. Sin

Terdapat beberapa versi film pendek berjudul Sin, dengan konflik yang serupa. Namun, Sin karya Hanung Bramantyo menjadi yang terkuat di antara versi lainnya.

Sinopsis: Terjebak dalam cinta yang naif di masa muda, seorang gadis hamil di luar nikah. Ketika pacarnya hendak bertanggung jawab, terjadi hal tidak terduga saat acara lamaran, hingga mereka tidak bisa melangsungkan pernikahan.

Ulasan: Anagnoriris dalam cerita Sin persis seperti konflik dalam lagu jadul berjudul Shame and Scandal in the Family. Terkesan konyol, namun punya dampak sosial yang cukup serius.

Klik untuk menonton >> Sin

11. Ji Dullah

Sinopsis: Abdullah Yasin baru saja kembali dari tanah suci dan mendapat gelar Haji. Akibat tergiur oleh insentif dan status sosial, ia mencalonkan diri menjadi kepala desa. Dan, demi meraup suara warga, Dullah harus mengorbankan harta dan kesejahteraan keluarganya.

Ulasan: Dalam balutan komedik, Ji Dullah menyentil fenomena di masyarakat yang kerap mendewakan simbol-simbol agama. Begitu pula perang batin dalam diri manusia, tatkala manyandang persona yang relijius, namun masih kerap tergiur dengan perkara duniawi. Lucu dan bikin gemas!

Klik untuk menonton >> Ji Dullah

12. Durable Love

Sinopsis: Punya pacar seharusnya bisa jadi saat-saat yang menyenangkan. Tapi, bagaimana jadinya kalau pacarmu lebih sering melihat layar laptopnya, ketimbang wajahmu?

Ulasan: Film pendek komedi romantis ini mengandung iklan. Tapi, gak bosen nontonnya karena ngelihat kelakuan absurd Si Cewek yang diperankan Karina Salim. Parah sih, lucu dan menghibur banget!

Sementara soal kualitas teknisnya, ini besutan Joko Anwar lho, jadi tidak usah kita bahas lagi, ya.

Klik untuk menonton >> Durable Love

13. The New Found

Sinopsis: Pengalaman pahit di waktu kecil, membuat Andy enggan berharap atau menjalin ikatan emosi dengan apapun dan siapapun. Namun, bisakah Andy terus menutup diri dan menjaga jarak dari perempuan yang ia sukai?

Ulasan: Seperti Durable Love, film pendek Indonesia ini juga besutan Joko Anwar. Kualitasnya tentu baik. Dan, alur ceritanya pun berlangsung cukup unik, dengan ending yang hangat dan bikin penonton berbunga-bunga. Film pendek ini juga membuat kita berpikir tentang dampak dari keretakan rumah tangga, terhadap perkembangam mental anak hingga dewasa.

Klik untuk menonton >> The New Found

14. Jentera

Sinopsis: Pada hari ulang tahun yang terasa janggal, seorang pelacur yang tidak percaya Tuhan, mengalami peristiwa luar biasa yang mengubah perspektifnya.

Ulasan: Jentera begitu apik menampilkan sisi kelam para pekerja malam, dengan alur cerita yang mengagumkan, berbumbu plot twist yang menakjubkan! Selain itu, genre fiksi ilmiah juga membuatnya berbeda dari film pendek Indonesia kebanyakan.

Klik untuk menonton >> Jentera

15. Antar Kota Dalam Provinsi

Sinopsis: Adam, seorang kenek bis AKDP (Antar Kota Dalam Provinsi). Ketika sedang bekerja, ia didatangi oleh Ana, kekasihnya. Namun, atmosfer bis yang romantis itu, seketika menjadi kisruh, lantaran seorang perempuan bernama Mita memasuki bis AKDP. Siapa Mita? Keributan macam apa yang akan terjadi dalam bis tersebut?

Ulasan: Alur cerita berlangsung apik dan dramatis, namun tetap natural dan tidak berlebihan. Penonton juga dibuat hanyut dengan situasi dalam bis, sampai-sampai ikutan geregetan. Hati-hati baper ya, Buibu.

Klik untuk menonton >> Antar Kota Dalam Provinsi

16. Wan An

Sinopsis: Mengusung soundtrack dari So7 – Saat Aku Lanjut Usia, sudah cukup menggambarkan situasi film Wan An. Ada sepasang suami istri lansia hidup berdua, dan saling menopang dalam keseharian mereka. Namun, suatu hari Sang Istri berkata ia takut untuk tidur, karena bisa saja salah satu dari mereka tidak bangun kembali keesokan harinya.

Ulasan: Memanjakan mata dengan sinematografi yang keren.Ditambah, akting natural dari aktor kawakan Henky Solaiman. Wan An membicarakan kematian dan perpisahan dengan cara yang unik dan menggelitik, sekaligus hangat dan mengharukan.

Klik untuk menonton >> Wan An

17. Indie Bung

Sinopsis: Dua orang anak muda ingin membuat film yang bagus, lengkap dengan segala tekniknya. Dan, film ini memvisualisasi imajinasi keduanya.

Ulasan: Alur cerita dan pengemasannya cukup unik. Dari sini, kita belajar beberapa istilah dalam pembuatan film. Indie Bung juga bikin kita kebayang rumitnya merencanakan suatu karya, apalagi mewujudkannya! Terutama, buat yang memilih jalur indie. Kerja keras, Bung!

Klik untuk menonton >> Indie Bung

18. Sepanjang Jalan Satu Arah

Sinopsis: Bani memiliki idealisme yang berbeda dari ibunya dalam urusan agama. Akibatnya, di masa pilkada, ia merasa semakin jengah karena ibunya terus mengajak Bani memilih jalan yang sama dengannya.

Ulasan: Film ini berdiri di antara fiksi dan dokumenter. Tampil beda, mengangkat tema yang hangat, dari sudut pandang para pembuatnya. Buat yang merasa berseberangan, jangan baper. Jadikan sebagai masukan dan sarana kita saling memahami perspektif masing-masing. Sulit introspeksi kalo tidak mau saling memahami, bukan?

Klik untuk menonton >> Sepanjang Jalan Satu Arah

19. Trunyan (Beyond the Lake)

Sinopsis: Yoga melakukan perjalanan mengunjungi desa ayahnya, Trunyan. Ia mempertanyakan mengenai identitas budaya, dan implikasinya terhadap prosesi pasca kematiannya kelak. Apakah ia akan dibakar seperti budaya ibunya, atau menghuni kuburan Trunyan seperti ayahnya?

Ulasan: Secara eksplisit, film ini menyampaikanpesan bahwa kita tidak pernah tahu hal-hal yang akan terjadi pada waktu yang belum tiba. Kita hanya dapat melakukan persiaan, sebaik-baiknya.

Namun, di samping pesan tersebut, film pendek Trunyan juga membuka cakrawala kita mengenai warna-warni budaya yang ada di Indonesia. Dan, bukankah Tuhan menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar dapat saling mengenal?

Klik untuk menonton >> Trunyan: Beyond the Lake

20. Balik Jakarta

Sinopsis: Günther, seorang pria asal Jerman kembali ke Jakarta untuk bernostalgia melihat rumah masa kecilnya. Untuk menemukan rumah tersebut, ia menyusuri Jakarta bersama tukang ojek asal Medan, dan menemui beragam hambatan. Dapatkah Günther menemukan yang ia cari?

Ulasan: Menghadirkan sosok tukang ojek yang mencari alamat, menjadi pilihan yang sempurna, karena film ini dapat menampilkan baragam wajah Jakarta dalam waktu singkat. Lalu lintas yang tidak karuan, tatanan masyarakat di gang sempit, kebaikan hati dari orang asing, gemerlap mall dan gedung-gedung tinggi, serta para perantau yang menjadikan Jakarta sebagai kotak nafkah mereka.

Film pendek Balik Jakarta juga membuat kita tertegun dan menyadari bahwa kerja keras tidak selalu membuahkan hasil yang kita inginkan. Tapi, Allah mboten sare dan Diamemberikan hal-hal baik sebagai ganjaran atas proses yang kita jalankan.

Be happy, no matter what.

Klik untuk menonton >> Balik Jakarta

21. Menanti Keajaiban

Sinopsis: Hana dan Rio tengah menulis cerita tentang Kinan dan Karin yang bertemu, lalu saling jatuh cinta. Sementara di semesta yang lain, Kinan menyadari bahwa ada yang mengendalikan skenario hidupnya. Ia terus mencoba, namun selalu ada penghalang yang membuatnya terpisah dari Karin.

Ulasan: Kualitas narasi yang petjah! Bikin de javu sama buku pertama Supernova dan Dunia Sophie. Mengandung bulir-bulir filsafat yang ngajak kita mikir soal skenario hidup dan takdir. Juga, tentang hati yang kurang peka karena terdistraksi oleh perkara-perkara fana yang bikin kita kehilangan jati diri. Ntaps!

Klik untuk menonton >> Menanti Keajaiban

22. Natalan

Sinopsis: Menjelang Natal, seorang ibu yang hidup sendiri menantikan kehadiran anak laki-laki semata wayangnya. Sang Ibu begitu bersemangat, menyiapkan makan malam yang enak, dan berdandan rapi. Akankah kerinduannya terbayar tuntas?

Ulasan: Tanpa dialog yang eksplisit, gejolak dalam film pendek Natalan mampu menyeruak ke hati penonton. Hangat, namun menyakitkan. Menguak kesedihan dan rasa kecewa sebagian orang di antara hiruk-pikuk hari raya.

Ditambah sinematografi kelas atas dan skenario yang apik, film ini tampil menawan dan membekas begitu dalam.

Klik untuk menonton >> Natalan

23. Kisah Hari Minggu

Sinopsis: Suasana pagi yang rusuh bagi ibu rumah tangga. Menyiapkan anak ke sekolah, sarapan, dan setumpuk pekerjaan harian yang tidak kenal tanggal merah. Dan, hari itu, Sang Ibu Rumah Tangga sangat kesal karena Sang Suami hanya tiduran dan tidak berangkat kerja. Belum lagi, anak bungsunya yang tidak pergi sekolah dan malah pergi mancing. Dino opo iki jal?

Ulasan: Implisit, tapi bisa bikin penonton nangkep alur ceritanya. Keren, sih. Pesan yang mau disampaikan juga kuat, perkara ibu rumah tangga yang tidak punya hari libur, dan terus menjalani hari-hari yang sama, sepanjang hidupnya.

Klik untuk menonton >> Kisah Hari Minggu

24. Sound of Preeett

Sinopsis: Ketika tengah menemani istrinya belanja di pasar tradisional, Agus dituduh kentut dan menguarkan bau yang mengganggu semua orang. Akibatnya, semua orang menyalahkannya, dan ia diseret oleh sekuriti ke toilet untuk segera BAB. Agus bisa apa ?

Ulasan: Komedi satire yang satu ini menyentil banyak kasus yang terjadi di Indonesia. Untuk menutupi kesalahan satu pihak, harus ada pihak lain yang disudutkan untuk menanggung hukuman. Yang mampu bersuara paling keras, menjadi yang paling berpengaruh.

Dengan skenario, hingga sinematografi yang baik, kesatiran film Sound of Preeett telah dibungkus apik oleh Rangga Kusmalendra, untuk jadi tontonan yang asik!

Klik untuk menonton >> Sound of Preeett

25. Love Paper

Sinopsis: Sepasang suami istri yang dulu menjalani begitu banyak momen yang indah, lambat laun mulai kehilangan satu per satu romantika dalam hubungan mereka.

Ulasan: Film pendek Love Paper, tampil beda, unik, dan mengagumkan, dengan gaya stop motion. Jadi berasa nonton Shaun the Sheep, Buibu Pakbapak. Xixixi~ Di samping topik yang sangat relate dengan banyak pasangan, parah sih, film ini idenya mahal banget dan ekskusinya juara!

Klik untuk menonton >> Love Paper

***

Selamat menikmati karya anak bangsa!

***

Baca juga:

5 Drama Korea Paling Seru yang Buibu Banget

14 Ide Kado untuk Teman yang Baru Melahirkan, Pasti Terpakai!

Tuliskan pendapat Anda di sini. :)