Buibu Boleh Tidak Menyusui, tapi … Baca Ini Dulu!

manfaat ASI untuk bayi
ASI untuk bayi ♡ semestaibu.com

Berbagai penelitian membuktikan manfaat ASI bagi bayi. Tapi, salahkah jika Buibu tidak mau menyusui? Hmm, kita bahas, yuk!

***

Salam, Buibu.

Pasti pernah dengar kan, istilah-istilah semacam Pejuang ASI, MengASIhi, ASIX, dan laktivis?

Sebagai bagian dari kampanye ASI dan menyusui, sebenarnya, setiap istilah itu bertujuan untuk menebar positive vibe kepada Buibu. Dengan harapan, Buibu menyusui dapat saling mendukung dan menyemangati satu sama lain.

Karena, meski manusia memenuhi syarat sebagai mamalia, namun ternyata aktivitas menyusui tidak berlangsung sealamiah itu. Di Indonesia saja, cakupan pemberian ASI eksklusif di tahun 2018, masih berada di angka 37,3% [1] dengan faktor penghambat yang beragam. Artinya, lebih dari 60% bayi tidak mendapatkan ASI eksklusif.

Apakah Semua Buibu Wajib Menyusui?

Lebih dari sekadar urusan biologis, menyusui memiliki nilai filosofis yang tinggi, dan bergengsi [2]. Lewat kegiatan menyusui, Buibu dapat memberi nutrisi yang dibutuhkan oleh manusia lain, langsung dari tubuh sendiri. Buibu dapat menyelamatkan nyawa [3], sekaligus menolong seseorang untuk menjadi manusia yang kuat dan cakap di kemudian hari.

Jika begitu, apakah terlalu muluk jika saya katakan, menyusui merupakan privilese bagi seorang puan? Bisa jadi, menyusui bukan kewajiban, dan bukan pula pemaksaan. Menyusui, merupakan hak istimewa yang (ada baiknya) Buibu perjuangkan.

Lagipula, kita sama-sama tahu kan, bahwa segudang manfaat ASI bagi bayi sudah terbukti oleh jurnal-jurnal ilmiah [4]. Artinya, memberi ASI kepada bayi termasuk tindakan progresif yang mengangkat derajat perempuan sebagai pelaku penting dalam mempersiapkan sebuah generasi. Empowering and body positive, right?

Salahkah Jika Buibu Tidak Menyusui?

Ada Buibu yang berkeyakinan bahwa “my body, my choice” dan berhak untuk tidak menyusui. Dalam hal ini, saya ingin bersikap adil dan moderat.

Sangat bisa dipahami ketika Buibu pekerja, tidak mendapat privilese yang sama dengan Buibu rumah tangga atau Buibu yang bekerja dari rumah. Belum lagi, kerepotan Buibu tunggal dan Buibu yang menjadi tulang punggung keluarga.

Di hadapan perjuangan mereka, akan menjadi cukup kejam jika Buibu menyusui malah merundung Buibu yang memilih untuk tidak menyusui. Setiap orang punya alasan, dan kita bukan Tuhan yang tahu segala, atau berhak memberikan penghakiman.

Dan, untuk mencari jalan tengah, kita bedakan saja antara menyusui dan memberi ASI.

Kita bisa saja setuju bahwa Buibu berhak untuk tidak menyusui (tanpa alasan medis), karena terpaksa harus bekerja, ingin berkarir, atau semangat berkiprah di masyarakat. Namun, sayang sekali, kita pun harus sepakat, bahwa bayi juga berhak menerima ASI, sebagai nutrisi terbaik di awal kehidupannya [4].

Jika kita terjemahkan, meski Buibu tidak menyusui, pastikan Buibu memenuhi hak bayi untuk mendapatkan ASI.

Memberi ASI Tanpa Menyusui

Ada dua jalan yang kerap jadi pilihan untuk memberi ASI tanpa menyusui.

Pertama, bisa melalui ASI perah, dengan segala perjuangan untuk menyiapkan dan menyimpannya.

Kedua, mengupah orang lain untuk menyusui bayi.

Buibu pasti familiar dengan kisah Halimatus Sa’diyah, ibu susuan Nabi Muhammad SAW, kan? Ada pula kisah Naomi di kitab Perjanjian Lama, yang menyusui cucunya, agar ibu dari bayinya bisa ikut berperang [2]. Singkat kata, ASI tidak harus berasal dari tubuh Buibu sendiri.

Tapi, untuk kedua alternatif tersebut, pastikan Buibu telah berkonsultasi dengan Konselor Menyusui lebih dulu, untuk mendapatkan saran yang terbaik, ya. Karena, ada berbagai pertimbangan yang cukup krusial dalam mencari donor ASI.

Buibu bisa baca di sini: “Donor ASI: Membantu VS Bumerang Bagi Ibu Menyusui

Pertanyaannya, kenapa sih ngeyel banget harus memberi ASI?

Hmm, dari sudut pandang progresif, memberi ASI pada bayi dapat menjadi bentuk perlawanan terhadap banyak hal. Mulai dari menghapus cap tabu terhadap kegiatan menyusui, mitos tentang ketidakcukupan ASI sebagai nutrisi bayi 0-6 bulan, hingga melawan kepentingan korporasi yang bertahun-tahun mendoktrin publik perihal keunggulan susu formula [5].

Dan, di sisi lain, bukankah semua Buibu selalu ingin memberikan yang terbaik bagi anak tercinta?

Dalam perkara nutrisi untuk bayi, Buibu sangat bisa mengandalkan ASI. Atau, ada di antara Buibu yang masih ragu dengan manfaat ASI bagi bayi? Kita cari sumber yang kredibel, yuk!

Manfaat ASI bagi Bayi yang Terbukti Secara Ilmiah

Berbagai situs dan juru kampanye telah menyebutkan sederet manfaat ASI. Tapi, mana sumbernya? Beneran ada penelitian atau tidak?

Nah, khusus untuk Buibu kritis dan cermat, Ibu En akan mengangkat berbagai penelitian yang telah mengungkap “keajaiban” ASI. Apa saja sih?

Berikut ini manfaat ASI dan menyusui bagi bayi, yang terbukti secara ilmiah:

1. Memenuhi kebutuhan nutrisi bayi

Tubuh mamalia memproduksi susu dengan kandungan yang spesifik, sesuai kebutuhan bayinya masing-masing. Dan, begitu pula manusia [4].

Jadi, meski susu formula mengklaim kandungan nutrisi yang lebih tinggi, namun ASI lebih mudah dicerna oleh bayi. Dengan begitu, ASI dapat menyuplai kebutuhan gizi dengan lebih baik dan lebih tepat [4].

Bahkan, selain “ganti shift” antara foremilk dan hindmilk, komposisi ASI juga dapat berubah-ubah dari waktu ke waktu, alias chrononutrition [6]. Jadi, bayi dapat mengenali pagi, siang, dan malam, melalui kandungan ASI Buibu. Luar biasa, ya!

2. Menjaga bayi tetap terhidrasi

Kandungan air pada ASI mencapai 88,1% [7]. Maka, bayi yang sudah mendapat asupan ASI, akan terhidrasi dengan baik dan tidak membutuhkan cairan tambahan berupa air putih, teh, air gula, atau susu formula. Apalagi, pemberian cairan selain ASI, justru akan membahayakan kesehatan bayi, terutama yang masih berusia di bawah 6 bulan [4].

3. Mendukung perkembangan kognitif anak

Apabila kita mengatakan bahwa ASI membuat anak menjadi lebih pintar, sepertinya bakal terdengar terlalu naif.

Akan lebih tepat, jika dikatakan bahwa ASI memiliki komposisi yang paling sesuai untuk mendukung perkembangan otak anak [4]. Pernyataan tersebut, didukung pula oleh berbagai penelitian yang membuktikan bahwa menyusui atau memberi ASI, berpengaruh positif terhadap kemampuan kognitif anak dan kualitas hidupnya di masa depan [8] [9] [10].

Tapi, bukan hanya ASI, poin ini juga berkaitan dengan optimalisasi nutrisi dalam 1000 hari pertama kehidupan ya, Buibu.

Baca juga: Tanya Jawab Seputar Stunting dan 1000 Hari Pertama Kehidupan

Baca juga: Optimalkan Tinggi Badan Anak dengan Nutrisi di 1000 Hari Pertama Kehidupan

4. Mengoptimalkan tumbuh kembang anak

Untuk dapat menjalani tumbuh kembang yang optimal, Buibu perlu memenuhi kebutuhan dasar anak, yang terdiri dari: asuh, asih, dan asah. Kabar baiknya, kegiatan menyusui dapat menjadi sarana untuk memberikan tiga kebutuhan dasar tersebut kepada bayi [11]. Seperti apa?

  • Asuh, atau kebutuhan fisis-biologis, melalui nutrisi lengkap yang terkandung di dalam ASI.
  • Asih, atau kebutuhan kasih sayang dan emosi, melalui perhatian dan pemberian rasa aman dan nyaman, ketika Buibu mendekap bayi selama menyusui.
  • Asah, atau kebutuhan stimulasi, ketika dalam aktivitas menyusui, Buibu menatap, berinteraksi, dan mengajak bayi bicara dengan penuh kelembutan.

5. Meningkatkan daya tahan tubuh bayi

Buibu tentu mengenal kolostrum, yaitu ASI yang keluar di awal-awal pasca melahirkan, berupa cairan jingga atau kekuningan yang lengket, dan terkadang bening. Nah, meski volumenya sedikit, kolostrum ini sarat gizi, serta punya peran penting dalam meningkatkan daya tahan tubuh bayi, Buibu [12]

Jadi, jangan khawatir ketika ASI hanya keluar sedikit pasca lahiran, ya. Karena, begitulah semestinya. Volume kolostrum sudah cukup kok memenuhi lambung bayi yang juga masih mungil [4].

Terlebih, kolostrum terdiri dari 70% leukosit untuk melawan virus dan bakteri penyebab penyakit, mengandung betakaroten tinggi sebagai antioksidan, dan immunoglobulin sebagai antibodi [4].

Ada immunoglobulin A (igA), immunoglobulin G (igG), immunoglobulin M (igM), immunoglobulin E (igE), dan immunoglobulin D (igD). Di antara kelimanya, konsentrasi igA yang paling tinggi. Dan, igA inilah yang ambil peran melindungi bayi pada membran mukus tenggorokan, paru-paru, dan sistem pencernaan [4].

Selain itu, ada pula faktor imun lain yang terkandung dalam kolostrum, yaitu: laktoferin, laktoperoksidase, oligosakarida, popipeptida, lisosom, laktalbumin, dan sitokin [12].

Hanya saja, Buibu tetap harus waspada. Ada infeksi yang tidak dapat dilawan oleh komposisi kolostrum. Sehingga, Buibu perlu melengkapinya dengan imunisasi dasar lengkap, sesuai usia anak.

6. Mengoptimalkan fungsi organ

Seperti yang disebutkan sebelumnya, komposisi ASI sangat spesifik, sesuai kebutuhan bayi manusia. Dengan memberikan ASI, maka Buibu dapat membantu bayi mengotimalkan fungsi organ mereka, karena [4]:

  • ASI mengandung alfa-laktalbumin. Berbeda dengan susu sapi yang mengandung beta-laktoglobulin dan berpotensi membuat tubuh bayi intoleran.
  • Kandungan protein dalam ASI, hanya sekitar 0,9 gram/100 ml. Sedangkan, konsentrasi protein dalam susu mamalia lain lebih tinggi, sehingga dapat membebani ginjal bayi yang belum sepenuhnya matang.
  • Kasein yang terkandung dalam ASI juga lebih rendah dibandingkan susu mamalia lain, sehingga lebih mudah dicerna.
  • ASI mengandung laktoferin, yang dapat melindungi saluran pencernaan bayi dari infeksi.

7. Mendukung pertumbuhan gigi yang rapi dan teratur

Kebiasaan minum susu menggunakan botol, mengempeng, dan mengisap jempol pada anak, dapat meningkatkan risiko maloklusi atau gigi tumbuh berantakan, hingga dua kali lipat dibandingkan dengan bayi yang menyusu langsung [13].

Jadi, sebagai langkah preventif dan antisipatif, ada baiknya Buibu tetap berjuang untuk menyusui ketika bersama bayi, ya. Pemberian ASIP pun sebaiknya tidak menggunakan dot, melainkan cup feeder, gelas sloki, sendok, spuit, atau pipet [14].

8. Menurunkan risiko alergi pada bayi

Penelitian menunjukkan bahwa menyusui dalam waktu yang lebih panjang (>6 bulan) ternyata dapat mengurangi risiko rhinitis alergi dan eksem pada bayi [15]. Dan, untuk Buibu yang punya riwayat alergi, sebaiknya rajin mengonsumsi makanan yang kaya vitamin C, ya. Karena, akan berpengaruh pula pada kandungan ASI dan efeknya dalam menurunkan risiko penyakit eksem atopik pada anak tercinta [16].

9. Mengurangi risiko terjadinya berbagai masalah kesehatan

Berbagai penelitian menunjukkan, bahwa ASI dapat mengurangi risiko terjadinya berbagai penyakit, antara lain:

  • kanker pada anak [17],
  • diabetes tipe I [18],
  • penyakit kardiovaskular [19],
  • pneumonia [20]
  • asma [21]
  • infeksi saluran pencernaan [22]
  • dan sebagainya.

Nah, dengan tubuh yang prima, anak Buibu dapat menjalani tumbuh kembang dengan baik, dan memiliki hidup yang lebih berkualitas pula nantinya.

10. Mengurangi risiko obesitas

Terdapat sederet penelitian yang menunjukkan bahwa menyusui dapat mengurangi risiko obesitas pada anak, hingga usia dewasa [23]

Hasil penelitian tersebut juga didukung oleh fakta bahwa ASI mengandung hormon yang bertindak sebagai pengontrol nafsu makan, seperti leptin, ghrelin, dan adiponektin, yang tidak terkandung dalam susu formula [4].

11. Meningkatkan kualitas tidur bayi

Berkaitan dengan ASI sebagai chrononutrition, kandungan ASI berubah-ubah mengikuti irama sirkadian atau perputaran waktu. Sehingga, bayi dapat membedakan antara pagi, siang, sore, dan malam, melalui sinyal yang Buibu sampaikan melalui ASI [6].

Menarik banget, kan?

Kandungan melatonin dalam ASI, sebagai hormon yang mendukung aktivitas tidur, bahkan meningkat ketika senja, dan mencapai puncaknya sekitar tengah malam. Jadi, bayi yang menyusui secara langsung, akan memiliki irama sirkadian yang lebih baik, dan cukup tidur di malam hari [6].

Sabar dan Syukur dalam Memberi ASI

Nah, apakah Buibu masih ragu dengan manfaat ASI yang luar biasa bagi bayi? Atau, Buibu menolak untuk sedikit “repot” menyiapkan ASIP, menyusui, mencari donor ASI, atau ibu susuan?

Hmm, setiap orang memiliki jalan juang masing-masing, sih.

Tapi, apapun kondisinya, setiap bayi juga memiliki hak yang setara. Itulah sebabnya, di luar sana, bertebaran Buibu pekerja yang mau bersusah-susah menyiapkan ASIP, hingga Pakbapak yang pontang-panting mencari donor ASI ketika sang ibu bayi sakit atau wafat pasca persalinan.

Dan, tentu saja, bersyukurlah kalian, wahai Buibu rumah tangga dan kaum rebahan profesional, seperti Ibu En. Kita, bisa memberi ASI kapan saja, tanpa perlu “perlengkapan perang” berupa pompa ASI, apron, hingga freezer.

Santai saja. Meski nama kalian tidak mendunia seperti Kate Middleton atau Meghan Markle, kalian juga telah berkontribusi. Melalui ASI, kalian menyiapkan manusia masa depan yang bakal ambil bagian dalam peradaban, puan.

Tabik. 🙂

***

Referensi:

  1. Kementerian Kesehatan RI. Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018. Jakarta
  2. The Guardian – Not your mother’s milk
  3. WHO – Breastfeeding can save lives and boost the economy – but mothers need more support
  4. Monika, F.B. 2014. Buku Pintar ASI dan Menyusui. Jakarta: Noura Books.
  5. Palmer, G. 1988. The Politics of Breastfeeding: When Breasts are Bad for Business. London: Pandora Press.
  6. Hahn-Holbrook, J., Saxbe, D., Bixby, C., Steele, C., & Glynn, L. (2019). Human Milk as “Chrononutrition”: Implications for Child Health and Development. Pediatric Research. 85. DOI: 10.1038/s41390-019-0368-x.
  7. Lawrence, Ruth A. & Robert M. Lawrence. 2011. Breastfeeding: A Guide For The Medical Profession. Missouri, AS: Elsevier Mosby.
  8. Richards, M., Hardy, R., & Wadsworth, M.E.J. (2002). Long-term effects of breast-feeding in a national birth cohort: Educational attainment and midlife cognitive function. Public Health Nutrition. 5. 631-5. DOI: 10.1079/PHN2002338
  9. Horwood, L.J. & Fergusson, D.M. (1998). Breastfeeding and Later Cognitive and Academic Outcomes. Pediatrics. 101. E9. DOI: 10.1542/peds.101.1.e9.
  10. Victora, C., Horta, B., Loret de Mola, C., de Avila Quevedo, L., Pinheiro, R., Gigante, D., Gonçalves, H., & Colugnati, F. (2015). Association between breastfeeding and intelligence, educational attainment, and income at 30 years of age: A prospective birth cohort study from Brazil. The Lancet. Global health. 3.e 199-205. DOI: 10.1016/S2214-109X(15)70002-1.
  11. AIMI – Pengaruh ASI Terhadap Tumbuh Kembang Anak
  12. Godhia, M.L. & Patel, N. (2013). Colostrum – its Composition, Benefits as a Nutraceutical – A Review. Current Research in Nutrition and Food Science. 1(1): 37-47. DOI: 10.12944/CRNFSJ.1.1.04.
  13. Viggiano, D., Fasano, D., Monaco, G., & Strohmenger, L. (2005). Breast feeding, bottle feeding, and non-nutritive sucking; effects on occlusion in deciduous dentition. Archives of Disease in Childhood. 89. 1121-3. DOI: 10.1136/adc.2003.029728.
  14. AIMI – Tips Melatih Bayi Minum ASIP Tanpa Dot
  15. Ehlayel, M. & Bener, A. (2008). Duration of breast-feeding and the risk of childhood allergic diseases in a developing country. Allergy and Asthma Proceedings: The Official Journal of Regional and State Allergy Societies. 29. 386-91. DOI: 10.2500/aap.2008.29.3138.
  16. Hoppu, U., Rinne, M., Salo-Väänänen, P., Lampi, A-M., Piironen, V., & Isolauri, E. Vitamin C in breast milk may reduce the risk of atopy in the infant. European Journal of Clinical Nutrition. 59, 123–128. DOI: 10.1038/sj.ejcn.1602048
  17. Küçükçongar, A., Oğuz, A., Pınarlı, F.G., Karadeniz, C., Okur, A., Kaya, Z., & Çelik, B. (2015) Breastfeeding and Childhood Cancer: Is Breastfeeding Preventative to Childhood Cancer? Pediatric Hematology and Oncology. 32:6, 374-381. DOI: 10.3109/08880018.2015.1058447
  18. Sadauskaite-Kuehne, V., Ludvigsson, J., Padaiga, Z., Jasinskiene, E., & Samuelsson, U. (2004). Longer breastfeeding is an independent protective factor against development of type 1 diabetes mellitus in childhood. Diabetes/Metabolism Research and Reviews. 20. 150-7. DOI: 10.1002/dmrr.425.
  19. Owen, C., Whincup, P., Odoki, K., Gilg, J., & Cook, D. (2002). Infant Feeding and Blood Cholesterol: A Study in Adolescents and a Systematic Review. Pediatrics. 110. 597-608. DOI: 10.1542/peds.110.3.597.
  20. Cesar, J.A., Victora, C.G., Barros, F.C., Santos, I.S., & Flores, J.A. (1999). Impact of breastfeeding on admission for pneumonia during postneonatal period in Brazil: Nested casecontrolled study. BMJ. 318: 1316-1320. DOI: 10.1136/bmj.318.7194.1316.
  21. Dell, S. & To, T. (2001) Breastfeeding and Asthma in Young Children. Arch Pediatr Adolesc Med. 155: 1261-1265. DOI: 10.1001/archpedi.155.11.1261
  22. Plenge-Boenig, A., Soto-Ramirez, N., Wilfried, K., Petersen, G., Davis, S., & Forster, J. (2010). Breastfeeding protects against acute gastroenteritis due to rotavirus in infants. European Journal of Pediatrics. 169. 1471-6. DOI: 10.1007/s00431-010-1245-0.
  23. Campbell, C. M. (2003). Preventing obesity. Prevention starts in infancy. BMJ (Clinical research ed.), 326 (7380), 102.

Tuliskan pendapat Anda di sini. :)