Optimalkan Tinggi Badan Anak dengan Nutrisi di 1000 Hari Pertama Kehidupan

Nutrisi 1000 hari pertama kehidupan
Nutrisi 1000 HPK ♡ semestaibu.com

Inisiatif global bertajuk Scaling Up Nutrition (SUN) Movement bergaung di tahun 2011. Dan, mewujud di Indonesia dalam Gerakan Nasional 1000 Hari Pertama Kehidupan, yang diatur dalam PP RI No. 42 Tahun 2013, tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi, yang fokus pada nutrisi di 1000 Hari Pertama Kehidupan.

Lalu … boom! Buibu Nusantara berhadapan dengan fakta mencengangkan dan bikin berdebar-debar. Terutama, Buibu hamil dan Buibu menyusui, yang menjadi sasaran utama gerakan ini.

Sudah tahu kan, Buibu? 1000 hari pertama kehidupan, ternyata menjadi periode emas, sekaligus periode kritis bagi manusia di sepanjang kehidupannya.

Bahkan, tidak sesederhana itu.

Tumbuh kembang anak dalam 1000 HPK dapat menjadi cerminan masa depan anak. Dan … yang bikin senewen, kekurangan nutrisi dalam periode ini akan menimbulkan gangguan tumbuh kembang yang sifatnya permanen dan sulit diperbaiki [1].

Belum lagi, isu tentang pencegahan stunting juga cukup santer terdengar. Akibatnya, banyak Buibu yang jadi ketar-ketir dengan tinggi badan anak mereka.

Apakah anak Buibu tergolong stunting? Apa itu stunting? Bagaimana cara mencegah stunting? Kira-kira, berapa tinggi badan yang bisa dicapai anak ketika dewasa, jika mempertimbangkan faktor genetik atau keturunan?

Untuk menjawabnya, Buibu bisa baca di sini:

Tanya Jawab Seputar Stunting dan 1000 Hari Pertama Kehidupan

Berapa Perkiraan Tinggi Badan Anak Ketika Dewasa? Hitung, Yuk!

Dari artikel di atas, Buibu akan mengetahui, bahwa asupan nutrisi pada 1000 hari pertama kehidupan, berkontribusi sangat besar terhadap pencegahan stunting, dan tumbuh kembang anak di masa depan.

Karena itu … Yuk, kita bahas! Seperti apa ya, asupan nutrisi yang dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak?

Asupan Nutrisi dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)

Sesuai dengan amanat PP RI No.42 tahun 2013, sebaiknya kita semakin peka terhadap asupan nutrisi ibu dan anak. Terutama, pada 1000 hari pertama kehidupan yang terbagi dalam tiga fase yang penting, yaitu [3]:

  • Masa kehamilan (280 hari)
  • Periode ASI Eksklusif (180 hari)
  • Periode MPASI (540 hari)

Kita bahas satu-satu, yuk!

A. Nutrisi penting untuk Ibu di masa kehamilan (280 hari)

Dalam masa kehamilan, calon anak Buibu sedang bertumbuh dan berkembang di dalam rahim. Nah, janin yang bakal jadi kesayangan Buibu ini, menerima zat-zat penting untuk membentuk organ tubuhnya dari asupan nutrisi Buibu. Bahkan, bayi mulai membentuk kebiasaan makan dan mengenal rasa lewat cairan ketuban, lho [1].

Jadi … Yuk, para Buibu hamil, bantu janin untuk menjalani tumbuh kembang yang baik, dengan mencukupi prioritas gizi berikut ini:

Trimester Pertama

  • Asam folat, atau vitamin B9, untuk membentuk sel darah merah, replikasi sel [1], dan menjadi komponen utama saat pembentukan sistem saraf pusat janin, yang akan berkembang menjadi otak dan tulang belakang [3]. Terkandung dalam: sayuran hijau (bayam dan brokoli), kacang-kacangan, tempe, dan buah (alpukat, jeruk, pisang, pepaya) [3].
  • Asam lemak tak jenuh, yang juga berperan dalam pembentukan sistem saraf pusat. Terkandung dalam: ikan laut, seperti tengiri, tuna, kembung, dan tongkol [4].
  • Vitamin B12, yang berfungsi membentuk sel darah merah dan perkembangan sistem saraf pusat [1]. Terkandung dalam: hasil ternak, seperti daging ayam, telur, susu, dan keju, juga olahan kedelai, seperti tempe dan tahu [4].
  • Vitamin D, untuk membantu penyerapan kalsium dan mineral [4]. Terkandung dalam: susu, ikan salmon, telur, dan makanan terfortifikasi vitamin D [1] [4].

Trimester kedua

  • Vitamin A, untuk tumbuh kembang sel, tulang, gigi, kulit, mata, dan imunitas janin [1]. Terkandung dalam: kangkung, wortel, brokoli, kuning telur, dan buah berwarna kuning—merah [4].
  • Zat besi (Fe), sejumlah 27 mg/hari untuk membentuk sel darah merah, mendistribusikan oksigen ke seluruh tubuh ibu dan bayi dalam kandungan, serta mencegah ADB (Anemia Defisiensi Besi) agar bayi yang lahir memiliki cadangan zat besi yang cukup selama periode ASI eksklusif [4] [1] [3]. Terdapat dua jenis zat besi, yaitu heme (dapat diserap tubuh hingga 15—40%) dan non heme (hanya dapat diserap 1—15%) [3]. Zat besi heme terkandung dalam hati ayam, hati sapi, daging sapi, dan tiram. Zat besi non heme, terkandung dalam bayam, gandum, kacang kedelai, buah (alpukat dan pisang) [3] [1].
  • Kalsium (Ca), untuk pembentukan tulang dan gigi, serta menurunkan risiko preeklamsia. Terkandung dalam: yoghurt, susu sapi, brokoli, tahu, roti gandum, dan kacang almond [1] [4].

Trimester Ketiga

  • Vitamin B6, atau piridoksin, mendukung pembentukan jaringan sistem saraf pusat. Terkandung dalam: ayam, sapi, gandum, kentang, bayam, dan buah (alpukat, pisang, dan semangka) [1].
  • Vitamin C, mendukung penyerapan zat besi dan antioksidan, serta berperan dalam pembentukan kolagen yang memperkuat tulang rawan, otot, dan peredaran darah janin. Terkandung dalam: sayuran (tomat, brokoli, kol) dan buah-buahan (jeruk, lemon, apel, mangga, pepaya) [1] [4].
  • Serat, untuk melancarkan pencernaan dan mencegah sembelit. Terkandung dalam: sayuran dan buah-buahan [4].
  • Seng (Zn), mendukung proses metabolisme dan imunitas. Terkandung dalam: hati sapi, daging sapi, telur, dan kacang-kacangan [4].
  • Yodium, sebagai komponen hormon tiroksin yang mengatur proses metabolisme, mengatur suhu tubuh, dan mendukung pembentukan sel darah merah dan sistem saraf pusat. [4] [1]. Terkandung dalam: garam terfortifikasi yodium, udang, dan ikan laut [4].

Kurangi konsumsi: kafein, makanan dan minuman manis, garam (kurang dari 5 gr atau 1 sdt), dan MSG [1].

Hindari konsumsi: sushi (daging mentah atau kurang matang), ikan yang mengandung merkuri, dan alkohol [1].

Konsultasikan dengan dokter jika mengonsumsi: jamu dan suplemen tambahan untuk Buibu vegan atau intoleran terhadap laktosa [1].

B. Nutrisi untuk anak usia 0—6 bulan (180 hari)

Setelah lahir, bayi berada dalam periode ASI eksklusif (ASIX). Artinya, bayi tidak diberi makanan atau minuman apapun yang bersifat nutritif selain ASI, selama 6 bulan.

Periode ini diawali dengan kenangan manis berupa IMD (Inisiasi Menyusui Dini), yang harus dilakukan segera (< 1 jam) setelah bayi lahir.

Pola asuh ini telah diamanatkan dalam UU No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan Pasal 128 dan PP RI No. 33 Tahun 2012 Tentang ASI. Jadi, apabila ASIX tidak diberikan dan IMD tidak dilakukan, tanpa indikasi medis yang mendasarinya, berarti sudah melanggar undang-undang.

Oh iya, dalam periode ASIX ini, ASI berubah sesuai kebutuhan bayi, yaitu [1]:

  • Kolostrum, berupa cairan ASI yang keluar di fase awal pasca melahirkan, dengan jumlah yang sedikit, berwarna jernih atau kekuningan, dan agak kental. Kolostrum ini penting banget, karena banyak mengandung antibodi, protein anti-infeksi, sel darah putih, dan vitamin A. Pokoknya, segala yang bayi butuhkan untuk membentuk kekebalan tubuh. Kolostrum juga bersifat pencahar untuk membersihkan usus dari mekonium dan bilirubin [1].
  • ASI transisi, keluar setelah kolostrum, dengan kuantitas yang lebih banyak, sehingga membuat payudara penuh dan terasa keras.
  • ASI matur, keluar setelah dua minggu pengeluaran ASI transisi.

Dan, dalam satu kali kegiatan menyusui, Buibu perlu memastikan bahwa bayi mendapatkan hindmilk dan foremilk. Hayo, apa bedanya? Mari kita cermati sama-sama.

  • Foremilk, berupa ASI yang pertama kali keluar ketika Buibu menyusui. Foremilk banyak mengandung air, protein, dan laktosa, sehingga tampak lebih encer [1].
  • Hindmilk, akan keluar terakhir ketika Buibu menyusui, dan mengandung lebih banyak lemak, tampak kekuningan, dan lebih kental [1]. Agar bayi mendapatkan hindmilk, pastikan bayi cukup lama menyusu hingga satu payudara terasa kosong, sebelum memindahkan bayi ke payudara lainnya.

Sementara itu, jaga asupan cairan dan nutrisi Buibu menyusui dengan menu sehat sesuai Pedoman Gizi Seimbang (PGS) [3], dan konsultasi dengan dokter jika hendak mengonsumsi obat atau suplemen tambahan [1].

C. Nutrisi untuk anak usia 6—24 bulan (540 hari)

Ketika bayi menginjak usia 6 bulan, tibalah masa yang menyenangkan, yaitu pemberian MPASI (Makanan Pendamping ASI). Karena, oh, karena … ASI sudah tidak bisa mencukupi kebutuhan energi dan zat besi untuk anak Buibu yang lucu itu.

Tapi, ingat. Ini makanan pendamping, ya. Bukan pengganti. Jadi, ASI masih tetap perlu diberikan bersama MPASI, setidaknya hingga anak berusia 2 tahun [5].

Nah, menurut rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), untuk menyiapkan MPASI yang paripurna, ada strategi yang harus Buibu penuhi, yaitu [5]:

  • Tepat waktu, memberikan MPASI sesuai usia ketika ASI sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan energi bayi.
  • Adekuat, yaitu MPASI dapat memenuhi kebutuhan energi, protein, makronutrien, dan mikronutrien bayi.
  • Aman dan higienis, mencakup penyimpanan, persiapan, pembuatan, dan penyajian MPASI, menggunakan alat dan bahan yang aman dan higienis.
  • Responsive feeding,dengan pemberian MPASI yang konsisten dan memerhatikan sinyal lapar dan kenyang dari bayi.

Tapi, karena lagi bahas nutrisi untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, kita fokus ke poin “adekuat” dulu ya, Buibu.

Bagaimana sih cara mewujudkan MPASI yang adekuat? Apa saja nutrisi yang kudu “dicemplungin” untuk membuat MPASI yang cetar membahana? Makanan apa yang diperlukan untuk mengoptimalkan tinggi badan anak?

Xixixi~ Tidak perlu mahal dan bikin Buibu rempong, kok. Buibu cuma perlu fokus pada dua hal, yaitu prioritas gizi yang diperlukan bayi dan jenis makanan yang mengandung gizi tersebut. Simpel.

Atau, butuh yang lebih simpel lagi?

MPASI Komersial

Masa-masa MPASI yang konon begitu rempong, akan sirna jika Buibu mengambil pilihan MPASI komersial.

Q: “Hah? Bukannya MPASI buatan pabrik itu mengandung pengawet ya, Momsta? Gimana, sih?”

Tenang, Buibu.

MPASI komersial dengan merek dagang yang cukup terkenal, tentu sudah memenuhi Codex Alimentaris (ketentuan khusus) dari WHO, yang mengatur standar keamanan, kebersihan, dan kandungan nutrisi. Termasuk pula larangan menggunakan zat adiktif dan bahan-bahan yang berbahaya bagi bayi [1].

Q: “Ah, tapi rasanya tidak yakin dan tidak sreg kalau pakai MPASI buatan pabrik. Gimana, dong?”

Ya, bagus juga. Dengan membuat MPASI sendiri, Buibu dapat memastikan secara langsung, kandungan gizi dan komposisi MPASI. Seimbang dan beragam, sesuai rekomendasi WHO.

MPASI Buatan Sendiri

Rempong, sudah menjadi konsekuensi yang perlu diemban jika memilih MPASI buatan sendiri. Tapi, tidak apa-apa.

Agar Buibu tidak spaneng sebelum memulai, kita ambil praktisnya saja, yuk. Supaya lebih mudah diterapkan, dan tidak bikin anak lapar duluan. Xixixi~

Jadi … demi anak cucu setinggi Christiano Ronaldo, Buibu cuma perlu mengingat-ingat, bahwa untuk mengoptimalkan tumbuh kembang, anak usia 6—24 bulan akan membutuhkan: karbohidrat, protein, lemak, zat besi, seng, kalsium, vitamin A, vitamin C, dan asam folat [1].

Untuk memenuhi prioritas gizi tersebut, komposisi MPASI buatan rumah yang Buibu racik dapat menggunakan 5 jenis bahan makanan berikut ini [6]:

  • Umbi-umbian (seperti ubi, ubi merah, dan kentang) dan serelia (seperti beras dan beras merah), sebagai sumber karbohidrat.
  • Kacang-kacangan (seperti kacang kedelai, kacang hijau, kacang polong, kacang merah, dan semacamnya), sebagai sumber protein nabati. Namun, tidak dianjurkan memberikan kacang tanah karena berisiko alergi, berupa pembengkakan di saluran pernapasan.
  • Sayur dan buah, yang terdiri dari sayuran dengan karoten tinggi, berupa sayuran jingga (seperti wortel, tomat merah, labu kuning) dan sayuran hijau (seperti brokoli, kangkung, bayam). Namun, sebaiknya tidak memberikan sayuran yang dapat menimbulkan gas dan menyebabkan perut kembung, seperti lobak, kembang kol, dan kol. Sementara buah, pilih yang cenderung manis, seperti pepaya, apel, pisang, jeruk manis, melon, alpukat, dan sebagainya.
  • Daging-dagingan, sebagai sumber protein hewani, seperti sapi dan ayam pada bagian yang tidak berlemak, ikan (salmon, gurame, atau kakap) yang dihaluskan atau berupa filet, dan telur. Namun, ada baiknya berikan putih telur secara bertahap dalam porsi kecil kepada bayi, untuk melihat reaksi alergi.
  • Minyak dan lemak, untuk melembutkan tekstur makanan dan memberikan rasa gurih. Dapat berupa keju, mentega, minyak kelapa, minyak jagung, santan, dan sebagainya.

Dari berbagai nutrisi di atas saja, sudah beragam resep yang dapat Buibu coba, kan?

Dengan begini … Buibu hamil, Buibu menyusui, dan Nakanak baduta, tidak harus memilih antara makan sehat atau makan enak. Karena makan sehat juga bisa jadi enak. Dan, yang terpenting, dapat mengoptimalkan tinggi badan anak di 1000 HPK.

Semangat, Buibu~

Untuk anak, bangsa, dan keluarga yang lebih tinggi. Yuk, optimalkan nutrisi di 1000 hari pertama kehidupan anak!

***

Sumber:

  1. Hanindita, Meta. 2018. Mommyclopedia: Tanya Jawab Tentang Nutrisi di 1000 Hari Pertama Kehidupan Anak. Jakarta: Gramedia.
  2. Panduan Praktik Klinis IDAI (2017): Perawakan Pendek pada Anak dan Remaja di Indonesia
  3. Monika, F.B. 2014. Buku Pintar ASI dan Menyusui. Jakarta: Noura Books.
  4. Jurusan Gizi (Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya) – Gizi Seimbang Ibu Hamil
  5. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) – Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu
  6. Jurusan Gizi (Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya) – Gizi Seimbang Anak 0—2 tahun

Tuliskan pendapat Anda di sini. :)