Kenalkan, Namaku Ibu dan Aku Temanmu

Semesta Ibu
Semesta Ibu ♡ semestaibu.com

[Renungan tentang menjadi ibu]

Tulisan ini cuma racauan seorang ibu introver yang suka mengamati dunia ibu lainnya dari balik jendela, diam-diam. Xixixi~

Sejak momen melahirkan yang cetar membahana dan hadirnya bayi yang amat lucu, kita sama-sama mendapat gelar baru. Ibu. Mom. Mama. Mimi. Mami. Mamah. Umi. Uma. Bunda. Bubu. Ambu. Dan, beragam lainnya.

Terdengar hangat dan menyenangkan, bukan? Kita bisa pilih sendiri gelarnya sesuai selera, tidak seperti gelar S1 yang satu jurusan sama semua.

Mau yang filosofis atau anti umum-umum club, suka-suka ibu saja. Mau keminggris, kemarab, atau kejawen, juga sebahagianya. Yang melahirkan, yang berhak menentukan, xixixi~

Btw, sejak jadi ibu, bahagia kita makin sederhana ya. Menyaksikan tumbuh kembang anak, makan enak, tidur nyenyak, muka glowing tanpa bedak, bebas minyak. Ah, nyaman.

Saking tenangnya hati, ada satu fenomena yang kita abaikan dari hari ke hari. Kita lupakan, tapi kadang jadi ganjalan di alam bawah sadar.

Yuk, kita bahas.

Pernah gak Buibu menyadari, ada kalanya, gelar ibu yang kita miliki bikin kita lupa diri?

Hm, bukan “lupa diri” dalam artian kalap belanja pas harbolnas ya. Bukan juga “lupa diri” seperti pejabat-pejabat yang suka rebutan kursi, padahal lebih enak duduk lesehan.

Maksud saya, soal “lupa diri” yang cenderung lupa sama diri sendiri. Lupa jati diri, lupa mimpi, bahkan lupa nama asli. Ingetnya, saya ini Bu Joko, Mamahnya Kinan, Bunda Keisya, atau Bu RT.

Lagipula, tetangga juga gitu, kan. Bisa jadi lebih kenal sama Bu Eko, meski sebenarnya di KTP tercantum nama Elizabeth Yolanda Surya Utami Setyaningsih Hadikusuma. Ya, kepanjangan juga sih. Mending Bu Eko aja.

Anyway.

Intinya, citra gadis enerjik, kembang kampus, dan bunga desa di masa lalu, seketika lenyap ketika kita menjadi sosok seorang ibu. Terutama, ibu rumah tangga yang sehari-hari cuma bergaul di rumah dan rumah tetangga.

Sementara Buibu karir, meski tidak sampai lupa nama, bisa jadi juga lupa mimpi dan idealisme di masa muda. Apalagi, jika mulai survei biaya masuk TK yang setara perguruan tinggi. Kerja, kerja, kerja saja.

Beli SKII nanti dulu. Lanjut S2 kapan-kapan deh. Yang penting: bayar cicilan, tabungan pendidikan anak, tunggakan BPJS, kirim uang ke orang tua, dan bantu adik kuliah. Kalau masih ada sisa, boleh juga tengok Big Bad Wolf cari buku impor buat anak. Atau, mampir IKEA?

Ah, tapi, kalau suami tajir melintir gimana? Bisa dong, tinggal nyoh-nyoh lempar duit buat ngurus semuanya dan kita leha-leha menjadi diri sendiri?

Bisa. Sangat bisa.

Punya asisten 14 orang, tidur nyaman di ranjang 5 meter, baru belajar bikin telur dadar, tidak tahu cara ngupas salak. Bisa banget.

Tapi, entitas kita di mata publik, tetap menjadi sosok istri dan ibu. Sadar atau tidak, Buibu bukan lagi ABG kinyis-kinyis yang dianggap primadona. Bukan pula teteh-teteh aktivis pergerakan mahasiswa yang tampil menawan ketika orasi.

Stereotip lingkungan sosial akan mulai menilai cara kita mendidik, melayani, dan menjadi magnet dalam keluarga. Kita dinilai dari kondisi dan pencapaian anak-anak kita.

Menyebalkan? Iya, sedikit.

Tapi, tidak apa-apa.

Buibu tidak sendiri dan tidak perlu memaksakan diri untuk mengubah kondisi. Buibu hanya perlu menyadari, lalu menerima yang harus diterima. Ubahlah jika bisa diubah, tapi jangan memaksa.

Nanti lelah. Sementara pura-pura bahagia butuh tenaga melimpah.

Jadi, tidak perlu melawan. Berdamai saja.

Jangan pula membandingkan dengan rumah tangga bahagia tanpa cela yang tampak di Instagram, ya. Lebih baik, Buibu cari sisi instagramable keluarga sendiri, dan pajang di dalam hati. Bukan di FB? Bukan, dong. Bahagia yang sebenarnya, tidak perlu pengakuan dari siapa-siapa, kan?

Aih, jadi serius gini.

Terus buat apa kita bahas persoalan ini kalau ujung-ujungnya cuma menerima?

Xixixi~ Jawabannya, biar masalah itu tidak jadi ganjalan alam bawah sadar yang bikin Buibu cranky dan capek sendiri. Mending kita bicarakan, dan nikmati sebagai bagian dari warna-warni kehidupan.

Jadi, kalau tetiba merasa:

  • butuh me-time baca buku sambil minum kopi,
  • ngebet menyelesaikan 20 episode drakor,
  • pingin ketemu teman-teman Buibu,
  • mau nyalon ke salon atau nyalon jadi bupati,
  • kangen bangku kuliahan,
  • belum bikin sesuatu, tapi kehabisan waktu,
  • dan masalah kesen”diri”an lainnya,

Baca juga: 5 Drama Korea Paling Seru yang Buibu Banget

Buibu perlu segera bangkit dan mulai bikin otretan. Apa yang Buibu inginkan? Apakah kondisi memungkinkan? Bagaimana cara mengatur semuanya agar berjalan harmonis? Perlukah ada pengorbanan dan penyesuaian? Atau, Buibu sudah cukup bahagia dengan kondisi saat ini?

Tarik napas … hembuskan.

Buibu perlu ketenangan maksimal. Termasuk pula, harus sabar, jika sedang membuat rencana, malah tiba-tiba ada suara Pakbapak:

“Gunting di simpan di mana, ya?”

“Jaket hitam kok gak ada?”

“Ini tanggal berapa?”

“Itu kucing tetangga sudah melahirkan ya?”

Lalu, sayup-sayup terdengar suara kasak-kusuk Si Balita numpahin tepung di atas kasur.

Ambyar.

Bagaimana mau berbuat sesuatu kalau semua nyari ibu?!

Eh, tunggu.

Itu privilese, bukan?

Meski kita “cuma” ibu dan tidak mendapat penghargaan dari presiden atau PBB. Meski kita cuma nerima nasi kotak dan ucapan terima kasih dari Pak RT kalau bantu-bantu panitia 17an.

Tapi, Buibu selalu dicari, dan dibutuhkan.

Bahkan, ganjaran bagi Buibu bukan sekadar prestise dan prestasi, melainkan surga yang tersemat di bawah kakimu. Kehormatan yang melampaui ruang dan waktu.

Dan, di ujung hari yang melelahkan, Buibu hanya perlu persepsi yang baru. Bahwa, menjadi semesta bagi sebuah keluarga, sudah cukup untuk membuat semesta bergembira dan menjadikanmu seorang ratu.

Lelah? Sama, aku juga.

Tapi, kita lelah bersama-sama, kok. Buibu di seluruh dunia pun terkoneksi dalam rasa yang serupa.

Lagipula, Pakbapak juga capek, sesuai dengan takaran dan kemampuan mereka.

Dan, kalau pingin ngeluh, tidak apa-apa, sekali-sekali. Lebih baik diumbar lalu dilupakan, daripada ditanam-tanam. Percuma, tidak akan muncul pohon cabe dari sana.

Eh … tapi, kalau mau berkeluh kesah, lebih baik jangan di media sosial, kalau tidak kuat jadi bahan gunjingan netijen. Jejak digitalnya juga bakal ganggu kalau Buibu daftar BUMN.

Ya gitu deh.

Dari sananya, Buibu itu memang untuk semuanya. Tapi, semua juga bakal ada untuk ibu, bukan?

Ibu untuk semua, semua untuk ibu.

Yuk, kenalan. Kamu tidak sendirian. Namaku Ibu, dan aku temanmu.

***

Salam sayang,

Ibu En

Tuliskan pendapat Anda di sini. :)